Minggu, Februari 13, 2011

Soekarno dan Kartosoewiryo

Partai.mestimoco.com - Jika panggung sejarah hanya berisi dua tokoh: Bung Karno dan Kartosoewirjo, maka yang terjadi adalah sebuah drama tragedi kehidupan yang sangat dramatis. Bahkan, hampir bisa dipastikan, jauh lebih mencekam dibanding lakon “Lawan Catur”, seb...uah naskah drama karya Kenneth Arthur (Kenneth Sawyer Goodman) yang diterjemahkan dengan apik oleh almarhum Rendra.

Lakon “Lawan Catur”, hanya menyuguhkan tokoh Samuel dan Antonio. Keduanya terlibat permainan catur yang penuh trik, penuh strategi, penuh konflik, dan secara keseluruhan begitu memukau, mencekam, dan pada akhirnya menghibur. Sedangkan tokoh Oscar dan Verka lebih sebagai pemain figuran. Repertoar itu begitu memukau di tangan sutradara handal seperti Rendra.
Tak ubahnya Bung Karno dan Kartosuwirjo. Sejak tahun 1918 keduanya terlibat jalinan pertemanan yang kental di rumah HOS Cokroaminoto, Surabaya.

Mereka bahu-membahu berjuang demi kejayaan negeri bersama Cokro. Akan tetapi, di bagian akhir, keduanya terlibat perbedaan paham yang keras. Bung Karno yang nasionalis berselubungkan Pancasila. Karwosoewirjo bergaris Islam ekstrim, dan menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Dengan sutradara Tuhan Yang Maha Agung, “drama” keduanya benar-benar mencekam, dengan ending yang tragis.

Melayang ke tahun 1918, 1919 … dan masa-masa di sekitar itu, Bung Karno dan Kartosoewirjo benar-benar berkarib. Di luar konteks kebangsaan, mereka bergaul layaknya anak muda pada zamannya. Termasuk, saling ledek, saling ejek, dan saling lempar canda dan tawa.

Ingat kebiasaan Bung Karno berpidato di depan kaca di dalam kamar yang pengap dan gelap? Ya, di satu
kamar paling ujung, satu-satunya kamar tak berjendela sehingga siang-malam Bung Karno harus menyalakan pelita, Bung Karno acap berpidato berapi-api. Dari luar kamar, teriakan-teriakan Bung Karno membahana. Sekali-dua, rekan-rekan satu pemondokan menegurnya. Akan tetapi, ketika Bung Karno tidak juga menghentikan kebiasaannya berpidato di depan cermin… mereka pun mengabaikan.

Nah, salah satu penghuni rumah yang tak bosan berkomentar atas ulah Bung Karno hanyalah Kartosoewirjo. “Hei Karno… buat apa berpidato di depan kaca… seperti orang gila saja….” Kartosoewirjo tak bosan mengejek dan melempar ledekan kepada Bung Karno? Atas itu semua, Bung Karno tak menggubris. Ia melanjutkan orasinya, meski hanya didengar tembok dan sekawanan cicak, nyamuk, dan keremangan suasana.

Usai berpidato, barulah Bung Karno membalas ledekan Kartosoewirjo. Pertama-tama, Bung Karno akan mengatakan apa yang ia lakukan adalah salah satu persiapan menjadi orang besar…. Jika Kartosoewirjo meladeni, maka aksi saling ledek pun berlanjut. Ibarat “lawan catur” langkah skakmat Bung Karno untuk membungkam ejekan Kartosoewirjo adalah kalimat menusuk seperti ini, “… tidak seperti kamu…. udah kurus, kecil, pendek, keriting… mana bisa jadi orang besar!”

Lakon terus bergulir. Keduanya terus memperjuangkan ideologinya. Keduanya bertujuan memberi yang terbaik buat bangsanya. Sampailah Bung Karno pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sedangkan Kartosoewirjo, meski pernah direkrut Bung Karno sebagai Wakil Menteri Pertahanan, tetapi ideologi garis kanan tak luntur.
Alih-alih menopang republik yang baru seumur jagung, Kartosoewirjo nyempal dan mendirikan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII). Bahkan tahun 1948, Kartosoewirjo memakulmatkan perang kepada Bung Karno (pemerintah yang sah). Lalu dua tahun kemudian, 1950, ia menyalakkan api perang dengan statemennya, “Bunuh Sukarno. Dialah penghalang pembentukan Negara Islam.”

Sejak itu, sejumlah usaha pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilakukan oleh para teroris anak buah Kartosoewirjo. Peristiwa penggranatan Cikini 30 November 1957 adalah salah satu saja dari sekian banyak rentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno oleh anak buah Kartosoewirjo. Masih ada peristiwa lain seperti penembakan Istana oleh Maukar. Kemudian penembakan waktu Bung Karno sedang shalat Idul Adha di masjid Istana, dan lain-lain upaya yang semuanya gagal.

Sebaliknya, TNI berhasil mendesak DI/NII, menangkap gembong Kartosoewirjo dan ia pun dihukum mati. Akan tetapi, sebelum Bung Karno menandatangani surat persetujuan eksekusi mati, juga tersimpan kisah menarik yang sungguh mengharukan.

Sukarno menangis di depan Mayjen S Parman (Asisten I/Menpangad) Kejadiannya di satu pagi pada tahun 1964, S Parman membawa surat keputusan eksekusi mati pada Kartosuwirjo. Sukarno tidak kuat menandatangani surat hukuman mati pada teman kecilnya itu. Lalu ia meminta S Parman kembali setelah Maghrib, sepanjang hari itu Sukarno gelisah. Ia shalat terus menerus dan berdoa, barulah seusai maghrib ia menandatangani surat eksekusi. Inilah surat eksekusi yang selalu diingat Sukarno karena memang ini hanya satu-satunya surat eksekusi kematian yang pernah ditandanganinya.

Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

Share:

Arsip Blog