Senin, September 23, 2013

Ada Prananda di balik 'Dedication of Life' Jokowi

PDIP.kabmalang.com -
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) menjadi 'bintang' pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Ancol, Jakarta Utara, 6-8 September lalu. Bagaimana tidak, pada pembukaan Rakernas yang dihadiri 1.300-an kader, Jokowi didapuk membacakan 'Dedication of Life' di atas podium.

Setelah membacakan teks 'Dedication of Life' itu, Jokowi juga mendapat pujian dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri , yang disambut riuh belasan ribu kader Banteng. Bahkan, putri Bung Karno itu meyakini kader kebanggaannya tersebut mendapat getaran saat membacakan teks ayahnya yang ditulis pada 1966.

Di balik hiruk pikuk pemberitaan pembacaan 'Dedication of Life' oleh Jokowi , belakangan baru diketahui bahwa ada keterlibatan Prananda Prabowo di balik momen yang menjadi headline hampir di semua media nasional itu.

Prananda adalah Kepala Ruang Pengendali dan Analisis Informasi (Situation Room) PDI Perjuangan, yang juga anak kedua Megawati. Pria 42 tahun ini dikenal sebagai cucu yang giat mengarsipkan peninggalan kakeknya, Bung Karno.

Kepada merdeka.com, Prananda mengungkapkan secara tertulis proses di balik pembacaan 'Dedication of Life' oleh Jokowi . Hanya saja, meski sejumlah sumber menyebut Prananda yang meminta Jokowi membacakan teks Bung Karno itu, dia membantah sebagai aktor tunggal di balik skenario yang menghebohkan itu. Dia mengaku hanya membantu sang ibu.

Berikut wawancara lengkapnya, yang disertai foto teks asli 'Dedication of Life' yang dikirimkan Prananda kepada merdeka.com:

Bisa diceritakan latar belakang sejarah 'Dedication of Life' yang dibacakan Bung Karno?

Sepengetahuan saya kali pertama Bung Karno mengucapkan kalimat 'Dedication of Life' ditujukan kepada para atlet yang akan mempersiapkan diri mengikuti Asian Games, pada tahun 1962. Kalimat tersebut kemudian sering diucapkan dalam berbagai pidato beliau, dan menemui bentuknya menjadi tulisan/amanat seperti yang dikenal pada tahun 1966. Mungkin di tahun ini Bung Karno ingin mempertegas komitmennya dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Tetapi yang saya pahami, demikian pula Ibu Megawati, amanat tersebut merupakan ajakan untuk seluruh rakyat Indonesia. Ajakan untuk mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Hal ini harus dilakukan oleh seluruh kader PDI Perjuangan, demikian kata Ibu Megawati kepada saya.

Saya dengar, Anda ikut terlibat di balik pembacaan 'Dedication Of Life' oleh Jokowi . Bisa diceritakan?

Amanat Bung Karno, 'Dedication Of Life' bukanlah suatu hal yang baru di PDI Perjuangan. Kali pertama disampaikan pada tahun 2012, tepatnya bulan Februari tanggal 23 saat Ibu Megawati menyampaikan pidatonya pada pembukaan Pendidikan Kader Pendidik PDI Perjuangan di Yogyakarta.

Beliau ingin memberikan motivasi kepada seluruh kader partai agar berjuang untuk mewujudkan politik sebagai pengabdian; politik yang berpihak kepada rakyat kecil dan politik sebagai perjuangan mewujudkan cita-cita bersama. Untuk itu, beliau ingin menyitir kalimat Bung Karno yang berkaitan dengan daya juang dan semangat pengabdian terhadap Tuhan, kepada Tanah Air dan kepada Bangsa.

Seperti yang sudah saya sampaikan pada merdeka.com pada wawancara tertulis sebelumnya, karena minat saya yang besar dalam mendokumentasikan tulisan-tulisan Bung Karno, saya ditugaskan oleh Ibu Megawati untuk mencari dokumen berupa tulisan tangan surat Bung Karno yang ditujukan kepada seorang sahabatnya, yang diberikan judul 'Dedication of Life'.

Sejak itulah 'Dedication of Life', dan Pancasila tentunya, wajib dibacakan dalam kegiatan partai yang sifatnya resmi. Biasanya Pancasila dan 'Dedication of Life' dibacakan oleh struktur partai atau kader partai yang dinilai mempunyai prestasi.
Teks 'Dedication of Life' (koleksi Prananda Prabowo)

Siapa yang biasanya ditugaskan membacakan 'Dedication of Life'?

Arahan Ibu Ketua Umum 'Dedication of Life' dibacakan oleh Ketua Ranting atau jajaran Pengurus Ranting. Ranting adalah struktur partai di tingkat desa. Rantinglah yang bergelut dengan persoalan rakyat sehari-hari. Karena itu, Ketua Ranting atau jajaran Pengurus Ranting ditugaskan untuk membacakan 'Dedication of Life', sebagai simbolisasi dialektika politik yang turun ke bawah sebagaimana menjadi arahan Ibu Ketua Umum, juga untuk mempertegas politik sebagai pengabdian. 'Dedication of Life' merupakan antitesa dari pragmatisme politik. Makna inilah yang ingin disampaikan oleh Ibu Megawati.

Mengapa 'Dedication of Life' dan bukan kutipan Bung Karno yang lain yang dipilih oleh untuk dibacakan Jokowi ?

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, bahwa 'Dedication of Life' merupakan antitesa dari pragmatisme politik. Dalam Rakernas III, Ibu Megawati kembali menyerukan pentingnya semangat dan daya juang karena itu dalam pidatonya beliau menyitir 'Dedication of Life'. Namun kali ini yang disitir oleh beliau pidato Bung Karno ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa di ITB tahun 1962.

"Dedicate kita punya hidup ini untuk suatu cita-cita yang tinggi. Dan dedication of life kita yang tertinggi ialah membuat Indonesia gemah ripah loh jinawi, membuat Indonesia satu tanah air yang besar, membuat Indonesia ini Negara yang kuat, membuat Indonesia ini satu masyarakat yang adil dan makmur. Dan kita harus dedicate kita punya hidup kepada cita-cita ini". Demikian ucapan Bung Karno yang disitir Ibu Megawati.

Dalam tatanan pelaksanaan seremoni pembukaan Rakernas III, teks Pancasila dibacakan oleh Pak Sidarto Danusubroto, beliau adalah salah satu kader tertua di partai yang sekarang menjabat sebagai Ketua MPR dan Pak Joko Widodo, kader partai yang menjadi Gubernur DKI Jakarta membacakan 'Dedication of Life'.

Ibu Megawati meminta kedua tokoh ini karena keduanya mewakili generasi yang berbeda. Kehadiran keduanya ingin menunjukkan dua hal penting; pertama, kesinambungan generasi yang terus terawat dalam diri PDI Perjuangan. Dan kedua, bahwa sekali pun berangkat dari generasi yang berbeda, keduanya dipertemukan oleh hal yang sama: Pancasila dan kehendak kuat untuk mengabdikan diri bagi bangsa. Dan keduanya berasal dari sumber yang sama: Bung Karno.
Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Kamis, September 12, 2013

Jawaban PDI Perjuangan untuk Amien Rais

PDIP.kabmalang.com - Jakarta - PDI Perjuangan merasa tergelitik dengan pernyataan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, yang menyebut Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bukan seorang nasionalis.
Wasekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menjelaskan Amien Rais meragukan nasionalisme Jokowi dengan menyatakan bahwa kebijakan privatisasi Indosat dan kebijakan BPPN di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri berlawanan dengan semangat nasionalisme.
"Ini saya kritik keras. Kalau berbicara tentang privatisasi, harus diingat bahwa Ibu Megawati melaksanakan ketetapan MPR. Saat itu Presiden sebagai mandataris MPR, dan Ketua MPR adalah Pak Amien Rais," tegas Hasto di Jakarta, Kamis (12/9).

"Justru Pak Amien lah yang menyebabkan agenda reformasi gagal. Harus diingat melalui Deklarasi Ciganjur, Pak Amien bersama dengan Gus Dur, Sri Sultan HB X, dan Megawati menandatangani komitmen di hadapan mahasiswa untuk tidak bekerja sama dengan kekuatan Orde Baru," beber Hasto.
"Namun justru Pak Amien yang mengingkari. Demi ambisi sebagai Ketua MPR, Pak Amien mengingkari deklarasi Ciganjur. Itulah pelanggaran etika politik terbesar pada awal Reformasi," ujarnya.

"Apakah beliau melaksanakan kewajibannya membayar pajak dengan baik. Bagaimana dengan sekolah Pak Amien yang terkenal sebagai sekolah paling mahal di Jogyakarta?" Tandas Hasto.

http://www.beritasatu..com/nasional
Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Rabu, September 11, 2013

PDI Perjuangan Mulai Melekat di Hati Pemilih

PDIP.kabmalang.com - JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan kini menjadi partai paling melekat di hati masyarakat, mengungguli partai-partai nasionalis lain seperti Golkar dan Demokrat. Demikian hasil jajak pendapat lembaga survei Alvara.

Kepala Riset Alvara, Hasanuddin Ali, mengatakan, PDI Perjuangan mulai mendapat tempat di hati pemilih muda berkat keberhasilan kader-kader muda partai berlambang banteng moncong putih ini di sejumlah pemilihan kepala daerah (pilkada).

"Temuan hasil survei, di mana tiga partai terpopuler yang memiliki top of mind atau paling melekat menurut masyarakat yaitu PDIP 30,9 persen, Partai Golkar 22,4 persen, Partai Demokrat 19,1 persen," kata Hasanuddin, Rabu (11/9/2013).

Lebih lanjut dia menjelaskan, hasil survei yang dibuatnya juga menempatkan Partai Golkar mengungguli PDIP dan Partai Demokrat berdasarkan popularitas sebagai partai di masyarakat.

"Secara umum, popularitas tiga partai yakni Partai Golkar 97,8 persen, Partai Demokrat 96 persen, dan PDIP 95,2 persen tertinggi di antara partai-partai lainnya," jelas Hasanuddin.

Survei Alvara ini dilakukan pada 15 Juli sampai 23 Agustus 2013 dengan sampel 1.532 responden dan margin error 2,5 persen. Survei dilakukan terhadap kelas menengah berpendidikan, pengetahuan sosial politik yang lebih baik, dan senang bersosialisasi. Adapun wilayah survei di Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makasar, Bandung dan Semarang.

(ded)
http://pemilu.okezone.com/read/2013/09/11/568/864354/pdip-mulai-melekat-di-hati-pemilih

Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Minggu, September 08, 2013

Raksaksa Dunia

PDIP.kabmalang.com -

Entah dimana, pernah kubaca semacam percakapan Bung Karno dengan seorang anak kecil. Kureka ulang percakapan itu dengan kata-kataku sendiri.

"Nak", sapa Bung Karno pada seorang anak Indonesia, "Hayo, duduk disini, disebelah bapak. Bapak punya cerita"
Si anak langsung beringsut, mendekati Bapak sambil menampakkan wajah penasaran. "Cerita apa, Pak?"

"Dulu, dunia ini dihuni oleh raksasa-raksasa. Ya, raksasa!", Bung Karno memulai ceritanya. Reasi si anak yang tadi penasaran langsung berubah kecut.
"Oh! Aku kira cerita serius... raksasa... :x ada-ada aja Bapak ini."
"Serius ini Nak, benar-benar raksasa!" tangkis Bung Karno tersenyum jenaka. "Sekarang dengar ceritaku, dan kau akan terpukau "
* * *
Sampai detik itu, aku juga mengkerutkan dahi. Persis anak kecil diatas. Aku kira Putra Sang Fajar ini akan menceritakan filosofi Pancasila, perjuangan rakyat-rakyat Asia Afrika, atau kisah nyata heroik lainnya. "Cerita Raksasa"? Hah... cuma cerita dongeng....
Tapi, ternyata aku salah kira.
Salah besar!  
* * *

"Korporal kerdil hobi baca"
"Dulu, Nak, raksasa-raksasa itu benar-benar ada di dunia. Mereka berjalan seperti kita diatas tanah yang sama kita pijak, tapi mereka bukan manusia biasa. Mereka raksasa!"

Bung Karno berhenti sejenak, melihat reaksi si anak yang masih kebingungan, lalu ia melanjutkan, "Raksasa itu ada yang bernama Napoleon, raksasa itu ada juga yang bernama George Washington, Jefferson, Karl Marx, Lennin, ada pula yang namanya Hitler, dan banyak lagi raksasa-raksasa gagah berani lain!"

"Mereka bukan raksasa, Pak!" sergah si anak, emosi. "Mereka manusia biasa. Bahkan Napoleon badannya kecil, jauh dari raksasa, sampai-sampai dipanggil Le Petit Corporal, si Kopral Kerdil"

Kali ini Bung Karno tersenyum lagi, "Heh Nak... kuno sekali caramu memandang dunia. Sampai kapan manusia terobsesi pada ukuran terus. Ukuran tak pernah jadi patokan, camkan itu. Gandhi-pun disebut orang besar, tapi badannya kecil sahaja, bukan? Jadi apa yang membuatnya jadi orang besar?"

Mata si anak mendongak, menunggu jawaban...

"Tidak lain tidak bukan, adalah pemikirannya. Ideologinya
. Dulu dunia seru dan berwarna karena para raksasa. Raksasa dalam pemikiran dan pendirian. Raksasa ideologi yang membuat dunia jadi berwarna-warni, jadi bergelora!" tukas Bung Karno.
Bung Karno bersama para pemimpin dunia


"Ah... aku tahu yang kau kau pikirkan," sergah Bung Karno saat melihat air muka sang anak hendak menyela, "Ya, ya, banyak yang bilang mereka penjahat, orang kejam, bahkan orang gila. Jangan pernah percaya sepenuhnya pada sejarah, Nak, karena sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Contoh mudah saja, bila Indonesia tak merdeka dan masih dijajah Belanda, aku yakin kau akan diberitahu lewat buku-buku sekolahmu bahwa aku adalah seorang pemberontak, seorang bandit celaka!"
(lebih lengkap tentang demonisasi tokoh sejarah bisa dilihat disini)

"Ah, aku rindu dunia yang dulu..." kata Bung Karno, menerawang," George Washington membawa angin baru  menampar imperialisme Inggris dengan Declaration of Independent, Karl Marx melahirkan ideologi baru demi nasib kaum buruh di Eropa. Hitler, Napoleon, semua orang kecil yang mampu memukau jutaan rakyat mereka. Tak masuk akal bila mereka jahat sempurna, sementara mereka berdiri didepan jutaan rakyat yang mendukung dengan berapi-api."


Che Guevara menyambut pemimpin Gerakan NonBlok
"Merekalah raksasa-raksasa yang tidak sekadar numpang hidup di dunia, mereka ikut memelintir, memeras, membentuk dunia yang mereka hidupi itu! Berusaha mewujudkan cita-cita pemikiran, menularkan gagasan dan ide-ide baru pada dunia. Mereka raksasa-raksasa yang sangat hebat !"

"Bagaimana dengan duniamu, Nak? Masihkah ada raksasa disana? Masihkah ada orang berhati seluas dan sekeras samudera yang semangatnya memukul-mukul dunia?"

* * *

Aku mendadak teringat pada kata-kata Ayahku dirumah dulu. Saat itu aku libur dari kuliah di Jakarta, dan kami duduk selonjoran di teras sambil melihat matahari tenggelam di sudut kabupaten Jembrana yang sepi.

Kutanya dia, "Ji, dulu, inget nggak pas Aji mengkritik togel yang marak di Jembrana di Balipost? Sampai pas aku pulang dari sekolah, aku lihat Aji lagi diintogasi tiga intel di rumah sambil nunjuk-nunjuk aku."


"Ingat lah..." kata Aji ku sambil nyengir. "Besoknya dipanggil ke kantor polisi buat diintrogasi lagi. Tiga jam, haha !"
Kutanyai dia lagi, "ngobrolin apa aja disana?"

Aji ku berkata, "Polisinya bilang, bapak sadar nggak kalau bapak ini membuat banyak orang tidak nyaman karena "pemasukannya" terganggu? Aji langsung aja tunjuk kamu yang lewat pulang dari sekolah sambil bilang gini, saya selalu suruh anak baca Vivekananda, buku yang Soekarno baca di penjara. Saya suruh dia ingat kalimat di bab I halaman 3 yang digarisbawahi Bung Karno, katakanlah hanya kebenaran walaupun sedang ada ujung pedang terhunus di lehermu."

Aku manggut-manggut, dan Aji melanjutkan, "camkan baik-baik ini, De, ini kata Zainnudin MZ. Saat kita mati nanti, Tuhan akan bertanya "apa yang sudah kau lakukan", dan bukannya "apa yang kau lakukan berhasil atau tidak". Pegang prinsip, punyai hati raksasa walau badan kecil..."

Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Jumat, September 06, 2013

"Dedicatio​n of Life"

PDIP.kabmalang.com -

"Saja adalah manusia biasa.
Saja tidak sempurna.
Sebagai manusia biasa, saja tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.
Hanja kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa.
Itulah dedication of life-ku.
Djiwa pengabdian inilah jang mendjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta mendjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku.
Tanpa djiwa pengabdian ini saja bukan apa-apa.
Akan tetapi, dengan djiwa pengabdian ini, saja merasakan hidupku bahagia dan manfaat.


Soekarno, 10 September 1966".


Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Kamis, September 05, 2013

Ketua PC Bamusi Menang Pilkada

PDIP.kabmalang.com -
KETUA Pengurus Cabang Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Mojokerto H Mas'ud Yunus dan Ketua PC Bamusi Probolinggo Suhadak memenangi pilkada setempat, kemarin. Mas'ud Yunus sebagai cawali berpasangan dengan cawawali Suyitno unggul di Pilwali Mojokerto, sedang Suhadak sebagai cawawali mendampingi cawali Hj Rukmini, menang di Pilwali Probolinggo
Pasangan calon Hj. Rukmini-Suhadak, Profesional, Amanah, dan Santun (Harus PAS) unggul, setelah sejumlah lembaga yang melakukan penghitungan cepat (quick count) menempatkannya di posisi teratas dalam perolehan suara sementara.

Quick count yang digelar Sekretaris Bersama Tim Pemenangan Harus PAS menempatkan paslon Hj Rukmini-Suhadak di posisi tertinggi dengan 38,60% suara. Disusul paslon Zulkifli Chalik-Maksum Subani (Zamzam) dan Dewi Ratih-Asad Anshari (Deras) 17,88%. Dan di posisi buncit, paslon Habib Hadi Zainal Abidin-Kusnan (Handalanku) 13,97%.

Keunggulan Harus PAS juga terlihat dari hasil penghitungan dua lembaga independen yakni, Survei Prima Mandiri Indonesia (Supremasi) dan Bedug Institute. Hasil quick count Supremasi menunjukkan, Harus PAS menang dengan 35,17% suara. Disusul Zamzam 31,77%, Deras 18,34%, dan Handalanku 14,72%.

Versi Bedug Institute, posisi Harus PAS tetap teratas dengan 35,44% suara. Disusul Zamzam 32,6%, Deras 16,8%, dan Handalanku 15,1%. "Melalui penghitungan cepat, pada pukul 16.30, dari 5 kecamatan dan 29 kelurahan, pasangan Harus PAS unggul dalam perolehan suara," ujar Direktur Bedug Institute, Hasanudin.

Kemenangan Harus PAS disambut gembira pasangan Rukmini-Suhadak dan para pendukungnya di Sekber Tim Pemenangan Harus PAS di Jl. Raya Bromo, Kota Probolinggo, Kamis tadi malam. "Syukur alhamdulillah, peroleh suara Harus PAS tertinggi," ujar Rukmini didampingi Suhadak.

Sementara, dalam Pilwali Mojokerto, sejumlah quick count lembaga survei dan tim pemenangan beberapa calon menempatkan pasangan Mas'ud Yunus-Suyitno (MY) peraih suara tertinggi dengan 48 persen. Pesaing utama pasangan ini adalah Ayub Busono-Mulyadi (Abdi) dengan raihan 38 persen disusul empat pasangan lain.

Penyelenggara pemilu di Kota Mojokerto ini akan melakukan penghitungan resmi pada tanggal 5 sampai 7 September 2013. (pri) 
 
Sumber : http://www.pdiperjuangan-jatim.org/
Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Arsip Blog