Notification

×

Iklan revolusi

Iklan 1048 300 revolusi

Budaya Politik Demokratis

Jumat, 08 Desember 2023 | Desember 08, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2024-05-28T04:24:28Z
    

Yeni Adien dot com }   Apa yang mendorong masyarakat Indonesia menerima demokrasi dan memilikinya sedemikian sehingga demokrasi bukanlah hal yang baru bagi mereka?

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, istilah demokrasi mungkin merupakan hal yang baru mereka dengar. Karena memang, sebagai istilah, demokrasi baru diperkenalkan di Indonesia sejak pergerakan perjuangan kemerdekaan. 

Namun, sebagai nilai-nilai bermasyarakat, demokrasi sesungguhnya telah akrab dalam keseharian mereka, sejak adanya nilai-nilai kultural di masyarakat. Itulah sebabnya, ketika dalam istilah demokrasi dikenal prinsip persaudaraan (fraternite), masyarakat segera menyodorkan tradisi gotong royong sebagai praksisnya. Dan ketika demokrasi menghargai kebebasan individual, masyarakat menyodorkan prinsip tepa slira (toleran) sebagai padanannya. 

Kedekatan hubungan antara masyarakat dengan demokrasi tersebut, tak lain karena tidak ada perbedaan antara nilai masyarakat Indonesia dengan nilai-nilai yang berkembang dalam demokrasi. Hanya terdapat perbedaan istilah. Seperti pisang, gedang dan banana. Beda di lisan tapi sama dalam perwujudannya.

Dalam konteks budaya politik, demokrasi cenderung memiliki aksen yang khas. Tidak akan sama aksentuasi “partisipasi masyarakat’ antar budaya politik, misalnya. Sebagaimana tidak akan sama aksentuasi demokratis terhadap “kesetaraan politik” pada lokus budaya politik yang berbeda. Semuanya beranjak dari pengalaman politik, pertarungan kepentingan politik serta kompetensi politik dari para pelaku di dalam lokus budaya politik tersebut.

Penulis berusaha untuk melakukan suatu apresiasi terhadap ekspresi budaya politik masyarakat yang terartikulasikan dalam sebuah perhelatan Pemilihan Kepala Desa di sebuah tempat di Kabupaten Malang. Dalam masyarakat pedesaan, ketika berada dalam masa represi Orde Baru, kreativitas untuk melakukan ekspresi politik bisa dipahami tidak muncul dengan leluasa. Ketakutan penguasa terhadap efek pembangkangan jika terdapat eksperimentasi politik di kalangan masyarakat, nampaknya lebih kuat ketimbang memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk secara dewasa menemukan bentuk demokrasi mereka. Masyarakat digiring untuk membutakan diri terhadap berbagai perilaku politik yang membodohkan, dan menerimanya sebagai sebuah hal yang tidak boleh dipertanyakan.

Sehingga, apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Malang dalam upaya menemukan pemimpin yang berkompeten dan terlegitimasi ini patut dianggap sebagai sebuah kreativitas politik yang sangat maju. Sungguhpun mereka hidup jauh dari hiruk pikuk politik dan demokrasi, mereka telah selangkah lebih maju dalam menentukan demokrasi menurut apa yang mereka yakini tentang nilai-nilai demokrasi.

Akankah budaya demokratis yang terus berkembang lebih baik ini akan kembali menjadi sebuah budaya demokrasi represif pada masa lalu (H2o)

Tulis Komen Anda
di bagian bawah 👇
 
Sumber :   



#OrangCerdasPilihYeni
Komentar Akun Facebook :

Komentar Akun Google :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Histat

Klik Iklan dibawah Tanah

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update